Sunday, March 31, 2019

The big decision I made


Hi Ladies,
Assalamu'alaikum


Di kesempatan kali ini aku akan sedikit berbagi cerita, hal yang cukup membuat hati ini terombang ambing. Sudah hampir dua tahun lamanya aku bergelut dengan kegelisahan ini. Semoga kalian ga ikutan dilema ya setelah membaca tulisanku ini. Hehe.

Sekalian perkenalan nih, mungkin ada beberapa dari ladies yang baru mampir di blog aku ini. Jadi kita kenalan dulu ya. Aku adalah seorang wanita yang baru 19 bulan mendapatkan gelar kehormatan menjadi Ibu untuk seorang putri cantik nan shaliha. Alhamdulillah perjalanan menjadi sorang istri yang masih berusaha untuk shaliha sudah hampir tiga tahun. Iya, baru seumur jagung memang. Selain menjadi seorang istri dan ibu, aku juga memiliki peran sosial lain sebagai seorang tenaga pengajar di sebuah sekolah menengah swasta di kota Bandung. Alhamdulillah, ini adalah tahun ke lima aku mendapatkan amanah tersebut. Ok, segitu dulu ya perkenalannya, mudah-mudahan akan ada kesempatan lain untuk saling berkenalan ya ladies. Sekarang kita kembali ke .... cerita curcolku.



Kekhawatiran itu muncul ketika usia kehamilanku menginjak bulan ke delapan. Waktu itu ibuku bercerita kalau Apa (Bapak) terpilih menjadi ketua rukun warga di tempat tinggalku. Aku masih belum mengerti arah pembicaraan ibuku mau kemana kala itu. Sampai akhirnya ibu menjelaskan kalau beliau akan sangat sibuk dengan kegiatan PKK, sehingga tidak mungkin untuk mengurus cucu (anakku). 

Sedih. Kesal. Tapi tidak bisa marah.

Aku mulai membicarakan ini dengan suami, lalu dia berpendapat "yaudah, resign aja". Sempat ada penyesalan kala itu, kenapa aku harus bercerita. Kenapa akhirnya seperti ini. Kenapa semudah itu dia meminta aku untuk berhenti. Setelah susah payah aku menyusun fondasi mimpi itu.

Perlahan, aku mencari pendapat lain tentang langkah apa yang harus aku ambil. Aku coba bertanya ke saudara, kakak, teman, dan tidak ada solusi terbaik -yang sesuai keinginanku- yang aku dapatkan kala itu. Semua berakhir buntu. Aku terus jalani hari-hari penuh kegalauan. Sampai akhirnya moment yang ditunggu itu tiba, hari kelahiran putri kecilku. 

Dua bulan pertama menjalani peran sebagai ibu sungguh melelahkan, benar saja, apa yang ibuku sampaikan. Ibuku tidak bisa hadir menemani hari-hari pertamaku menjadi seorang ibu. Pasca lahiran, ibuku hanya menemaniku sampai hari ke lima saja. Setelah itu ibuku hanya datang dua hari sekali, untuk sekedar "nengokin". Kebayang makin hancurlah harapan ini, fondasi mimpi itu runtuh perlahan dan pasti. Tapi entah kenapa, hati ini masih tidak bisa untuk melepaskan apa yang sudah aku rintis dengan susah payah itu.

Masa cuti habis, waktunya kembali ke rutinitas. Karena tidak ada yang bisa membantuku mengasuh putri kecilku, akhirnya dengan langkah yang sungguh berat, aku bawa bayi kecil itu untuk ikut ke sekolah. Sedih rasanya, itu adalah titik paling rendah yang pernah aku lalui. Aku sungguh pesimis, sedih, dan merasa sendiri. Iya, sendiri. Suami tidak mendukung, keluarga pun kesulitan untuk mendukungku. Aku tidak memiliki support system yang bisa membuatku kuat kala itu.


Seringkali aku coba untuk berdamai dengan egoku ini, sempat ada masa aku lelah. Apalagi saat aku mendapatkan kesempatan untuk membahas quote "hidup bukan memaksakan untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan, tetapi tentang menghargai apa yang kamu miliki, dan sabar menanti apa yang akan menghampiri". Quote itu ditulis Kepala Sekolah, setiap hari senin semua guru berkumpul dalam kegiatan sarasehan. Pada senin itu, akulah yang mendapatkan giliran untuk berbagi cerita, bersasarkan quote yang aku dapatkan itu. Rasanya ingin sekali nangis, tapi malu. Dalam forum sebesar itu, aku harus bercerita dan tegar. Akhirnya aku memilih ilustrasi lain untuk disampaikan kala itu. Aku memilih untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya.

Kucoba untuk menjalani hari dengan berdamai, mengalah pada keinginan dan mimpi. Sempat beberapa kali aku menyerah, surat pengunduran diri sudah tertulis, tinggal disampaikan ke Kepala Sekolah. Tapi tetap saja, hati ini bersikeras untuk terus bertahan.

Kenapa sih, ko ngotot banget pengen tetep kerja?

Inilah yang ingin aku sampaikan, menurutku menjadi seorang guru itu bukanlah pekerjaan, tapi pengabdian. Banyak sekali ilmu yang aku dapatkan saat menjadi seorang guru. Menjadi guru mengajarkan aku untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Banyak sekali kesempatan untuk terus menimba berbagai ilmu. Menjadi guru memang bukan pekerjaan yang mudah, ada tanggung jawab besar dalam setiap langkah dan ucapannya.
"Menjadi guru memiliki tantangan yang sangat kompleks salah satunya bagaimana kita dihadapkan dengan sebuah karakter yang berbeda dan bagaimana kita dapat mendidik dari perbedaan karakter, namun seorang guru dituntut dapat mengemban tugas untuk mencerdaskan anak bangsa, sehingga hal ini menuntut seorang guru untuk memiliki jiwa sebagai seorang pendidik" Muhammad Ansar, S.Pd, M.Si, dikutip dari situs kemdikbud.
Meskipun memiliki tugas yang berat, ada hal lain yang memotivasiku untuk tetap menjalankan profesi ini, seperti ungkapan yang dikutip dari situs republika:
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala dari orang-orang yang mengamalkannya dengan tidak mengurangi sedikit pun pahala orang yang mengerjakannya itu.” (HR Ibnu Majah). 
Rasulullah SAW juga bersabda: “Barang siapa yang ditanya tentang suatu ilmu pengetahuan lalu ia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat kelak Allah SWT akan mengekangnya dengan kekang api neraka.” (HR Abu Dawud dan Imam Tirmidzi)
Membaca banyaknya keutamaan menjadi seorang guru membuatku semakin yakin dengan profesi yang selama ini aku pertahankan. Entah kenapa, semakin aku berusaha untuk meninggalkan profesi ini, semakin banyak  pula kemudahan yang aku dapatkan dalam profesi ini. Ada suatu kebahagiaan yang tak ternilai saat salah satu siswa mengatakan "Aku lebih ngerti loh bu, kalau ibu yang jelasin". Kebahagiaan itu yang tidak mudah untuk aku lepaskan. Masih banyak hal-hal yang ingin aku bagikan kepada peserta didikku.

Setelah membaca berbagai sumber yang membahas tentang profesi guru, dan menghadiri beberapa kajian, tak henti ku panjatkan do'a-do'a padaNya dan berserah pada takdir apapun yang Allah tetapkan. Seiring berjalan waktu, akhirnya keraguanku perlahan menghilang. Mulai tampak sedikit harapan,  suami yang awalnya memintaku untuk menjadi full-time mom, akhirnya mulai melunak. Suamiku sudah memberikan ijin untuk tetap menjadi guru, dengan catatan tidak mengajar full-day. Allhamdulillah. Restu itulah yang selama inu ku nanti, tanpa restu itu, semua upaya yang aku lakukan tidak akan berkah.

Aku sungguh bersyukur, akhirnya do'a itu terkabul dengan skenario terbaik dari Allah. Mungkin Allah menegurku yang terlalu keras hati hingga lupa bersyukur.

Kini, tanpa mengurangi kewajibanku dan mensyukuri perananku sebagai istri dan ibu, aku memutuskan untuk tetap menjadi seorang guru. Semoga keputusan ini menjadi keputusan yang terbaik untukku. Aamiin allahuma aamiin.

Oke ladies segitu dulu ya ceritaku kali ini, tulisan diatas dibuat berdasarkan kolaborasi dengan Bandung Hijab Blogger. Ada banyak juga loh cerita dari temen-temen BHB lainnya. Enjoy ya, ladies.

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari no. 3461)



With love,

26 comments:

  1. Semangat teh untuk multitaskingnya. Kalau cape, inget aja lagi nabung pahala. Hhi.

    ReplyDelete
  2. Quote dari Kepala Sekolahnya kok "kena" banget yaaa

    ReplyDelete
  3. Awalnya aku pikir ending ceritanya bakal kayak orang kebanyakan tapi ternyata woww kamu kuat banget :))) ga pernah ada pilihan yg salah hanya ada pilihan yang berbeda. Makasi untuk pelajaran hari ini Ruly ♥️

    ReplyDelete
  4. duh aku juga tersentil nih buat ngajar lagi, semenjak lulus aku belum ngajar ngajar lagi soalnya huhuhu pengen banget mengabdi kaya teteh ;')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woh Rara kuliahnya bidang pendidikan juga toh? Baru tau akuuuuh.. Hayu atuh geulish ;)

      Delete
  5. Sukak banget sm quotesnya teh:)
    Semoga sukses selalu jadi guru yg bermanfaat bagi nusa bangsa aamiin

    ReplyDelete
  6. Masyaallah teh, ceritanya seru n bikin haru. InsyaAllah selalu Ada jalan terbaik. InsyaAllah kesibukannya sekarang bikin berkah. Amin

    ReplyDelete
  7. Sukak banget sm quotesnya teeeh:)
    Semangat terus mengabdi..semoga ilmunya jadi amalan yg terus mengaliiir:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin allahuma aamiin teh :D itu quote dari pa Kepsek

      Delete
  8. Akhh, Teh, paling galau yaa kalo udh seperti ini,mudah2an dimudahkan segala seuatunya, Aamiinnn....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener teh mpus, galau level three thousand.. Aamiin YRA

      Delete
  9. Jad inget dulu ada kakak kelas yang nyaranin aku untuk jadi pengajar. Katanya, kalau jadi pengajar, kebaikannya dapet di dunia dan di akhirat. Sempet ada terbersit pengen jadi guru aja, tapi takdir membawaku ke bidang pekerjaan lain.

    Semangat mengabdikan diri dan ilmu ke murid-murid nya ya teh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebetulnya apapun bidang kerjanya, asal niatnya Lillah mah insya Allah barokah teh.. :D
      Semangat juga ya teh..

      Delete
  10. suka dengan quote nya pak kepala sekolah teh, memang tak selamanya kita harus setiap saat mengejar mimpi, ada kalanya kita perlu istirahat sejenak untuk duduk dan menikmati apa yang sudah kita miliki sehingga kita akan menjadi pribadi yang pandai bersyukur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener teh, kepala sekolah juga pernah bilang kalau punya ambisi itu gpp, asal jangan jadi ambisius.. Takut malah lupa bersyukur, gitu katanya..

      Delete
  11. Mau apapun itu profesinya semoga itu tetap gak mengurangi kewajiban kita sebagai istri dan ibu yah teh. Semoga tetep balance. Dan semoga keputusan teteh yang memutuskan tetap mengajar adalah hal terbaik yah. Barakallah teteh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Allahuma aamiin.. Emang jadi harus kerja ekstra, tapi insya Allah ikhlas :D Hatur nuhun teteh geulis

      Delete
  12. Love banget nih sama ibu yang pekerja keras gini. Siap multi tasking ngurus rumah dan pekerjaan.

    ReplyDelete

Thank you so much for stopping by. ❤️