Thursday, June 13, 2019

Eid Mubarak 1440H


Hi, Dear

Assalamu'alaikum

Alhamdulillah, sekarang sudah memasuki bulan Syawal. Meskipun berat rasanya diinggalkan bulan suci Ramadhan, tapi kita tetap harus bergembira untuk menyambut bulan Syawal. تقبل الله منا ومنكم. Semoga ibadah kita di bulan suci Ramadhan diterima oleh الله, semua dosa diampuni, diberikan keberkahan dan tentunya semoga kita bisa berjumpa kembali dengan bulan suci Ramadhan di tahun depan, aamiin.

Dalam menyambut hari raya Idul Fitri semua orang pasti mempersiapkan banyak sekali agenda, mulai dari agenda bersih-bersih rumah, bikin kue, masak ketupat dan opor, dan juga beli baju baru. Siapa yang tahun ini beli baju lebaran lebih dari satu? Hehehe. Iya rentetan agenda menjelang Idul Fitri di tempatku persis seperti itu, bahkan pernah loh malam takbiran masih dikejar proyek cat rumah ala sangkuriang, segitunya persiapan menyambut Idul Fitri. Dear, tolong ambil hal yang baik buang yang buruknya yaa.. Hehehe

Lebaran Dulu

Hari raya Idul Fitri sungguh amat dinanti, moment berkumpul bersama keluarga besarlah yang membuat Idul Fitri makin berkesan. Maka, ga heran kalau keluargaku selalu mempersiapkan yang terbaik di Idul Fitri. Satu minggu menjelang Idul Fitri adalah waktu paling sibuk, biasanya aku bagi tugas dengan adik laki-lakiku. Untuk urusan dapur, masak-masak itu disupervisi oleh ibuku dan adikku yang jadi chef nya. 
"Loh, terus kamu ngapain liel?"
Aku? Ngapain ya? Hayo tebak!


Aku jadi asisten Apa (Bapak) untuk ngecat seisi rumah! Hahaha. Kebalik ya? Iya begitulah, mungkin OS aku dan adik ketukan waktu kecil. Hehehe, kidding. Meskipun tugas kami berbeda dan nampak tertukar, tapi kami hepi ko. Oya, menu masakan favorit aku selama lebaran itu sayur cabe gendot (cabai gendol/canai bendot). Itu menu wajib yang harus selalu ada, numero uno. Untuk menu lainnya sih bebas, boleh opor, kari, gulai, rendang atau apapun itu. Masakan buatan adikku entah kenapa selalu lebih enak dibandingkan dengan masakan buatanku. Apakah memasak adalah sebuah bakat? Walau aku ga bakat masak, tapi aku lumayan terampil dalan urusan merangkai bunga loh dear (biar tetep kelihatan sisi feminimnya, hihihi)

Selain agenda beberes dan masak-masak, agenda wajib lainnya adalah berburu baju baru. Iya ini sudah jadi tradisi atau kebiasaan di keluargaku. Dulu, waktu aku masih kecil Ibuku selalu mengajarkan aku untuk mandiri dan rajin menabung. Jadi biasanya, baju lebaran yang aku beli itu adalah hasil dari tabunganku ditambah dengan THR dari Ibu dan Apa. 
"Yakin cuma beli baju lebaran aja nih liel?"
Ohh, tentu saja tidak! Harus lengkap beserta sandal/sepatunya juga dong. Hahaha. Dulu, biasanya aku beli baju, sepatu dan pernak-pernik lainnya di sekitar Jalan Kepatihan, karena disitu ada banyak banget toko dengan berbagai jenis barang yang dijual. Biasanya aku beli dua pasang baju, plus satu pasang sandal/sepatu. Jadi siapa yang beli baju lebaran lebih dari satu? Itu aku! Hehehe

Lebaran Kini

Lain dulu lain kini, setelah menikah pasti akan ada banyak perubahan yang cukup signifikan. Dulu aku ga pernah mudik, soalnya jarak rumah Enin dan Emak itu cuma beda RT. Rumahku di RT03, rumah Enin di RT04 dan rumah Emak di RT06. Pengen banget ngerasain mudik, dan alhamdulillah bisa kesampaian. Lebaran pertama setelah nikah aku habiskan di kampung halaman yang baru, di perbatasan Bandung-Sumedang. Sesampainya di rumah Mamah (mertua), udah ga ada yang namanya masak apalagi bikin kue. Semua sudah beres. Ngerasa ada yang hilang? Iya tentu. Tradisi salam-salam juga berbeda, kalau di tempat Ibu biasanya sungkeman gitu, suasananya haru bahagia. Nangis-nangisan itu wajar. Kalau di rumah Mamah, sungkemnya ga pake nangis, harus strong dan happy!

Seiring berjalannya waktu, ada banyak hal yang aku pelajari dan akhirnya aku pahami. Ada banyak perubahan yang aku alami, dan hal yang paling berasa dampaknya adalah aku belajar lebih sederhana. Moment penting memang harus diperingati, itu sebagai salah satu cara kita mensyukuri apa yang sudah kita capai. Memperingati bukan berarti harus berlebih-lebihan. Cukup dengan mengoptimalkan apa yang kita miliki agar kita bisa berbagi lebih banyak lagi tentu menjadi opsi yang baik dan bijak.

Sejak aku memutuskan ingin hidup sederhana atau bahasa kerennya minimalis, aku mulai membatasi pembelian barang yang bersifat keinginan. Lebaran tahun ini aku menantang diri sendiri untuk tidak membeli baju lebaran yang baru. Sempat ada pro dan kontra tentang hal ini, ada beberapa pendapat yang mengatakan 'tidak menghormati hari raya' ada pula pendapat yang mengatakan 'bukan bajunya yang harus baru, tapi hatinya'. Aku sempat galau dibuatnya, namun akhirnya aku berhasil untuk tidak membeli baju baru untuk lebaran, karena aku pikir baju tahun lalu masih layak pakai.

1 Syawal 1440 H

1 Syawal 1439 H
Foto diatas diambil saat hari pertama Idul Fitri atau 1 Syawal, bisa dilihat kalau baju yang aku dan suamik tidak berganti. Bukan karena tidak mampu atau tidak peduli, tapi karena ingin bersedekah untuk orang lain lebih banyak dibanding membeli baju yang hanya dipakai satu kali dalam setahun. Selama ada ijin suamik, hijrah rasanya lebih mudah. 

Kalian penasaran ga lihat OOTD lebaran aku, sabar ya, masih dalam proses penulisan dan editing. Yuks turn on subscribe nya. Nanti aku akan buat post tentang ootd & makeup look selama lebaran, staytune ya Dear!


With love,

No comments:

Post a Comment

Thank you so much for stopping by. ❤️