Friday, April 23, 2021

Cerita aku dan sampah

 



Rulyrose.com - Hi Dear, Assalamu'alaikum. Selamat menjalankan ibadah Shaum Ramadhannya ya bagi yang menjalankan. Dikesempatan kali ini aku mau coba berbagi pengalamanku dalam mengelola sampah. Yuk simak ceritaku.

"Kenapa sih sampah harus kita kelola? Kan ada petugas kebersihan."

Hmm, pernah dengar pernyataan kaya gini ga, dear? Kalau aku sih sering banget. Setiap kali denger ada pernyataan kaya gini tuh bikin hati aku sedih loh. Kenapa? Karena, aku adalah salah satu orang yang punya kenangan buruk dengan sampah. Jadi disaat mendengar pernyataan seperti itu ya aku sedih sekaligus geram.

Singkat cerita, aku tumbuh besar di salah satu daerah yang dekat dengan sungai Citarum. Sebuah yang sering sekali muncul pemberitaannya di televisi setiap kali musim penghujan tiba. Kenapa coba?

Banjir. Ya, itu dia jawabannya. Dulu, sebelum tahun 2005, daerah ini adalah sebuah daerah yang hangat dan asri. Sebuah daerah yang menemaniku mengukir kenangan indah sewaktu kecil. Sampai suatu hari di bulan Maret 2005 akhirnya semua keindahannya hilang diterjang oleh banjir.

Salah satu momen yang tidak bisa aku lupa adalah, melihat banyaknya sampah yang hanyut terbawa arus banjir dari atas balkon. Hal itu rasanya suatu pemandangan yang biasa kala itu. Berbagai jenis sampah yang mengapung bersatu dan hanyut menjadi kegiatan rutin saat hari menjelang petang. Rasanya tidak sanggup lagi aku membayangkan sampah popok sekali pakai yang mengapung kala itu. Miris ya? Tapi itulah yang aku hadapi hampir selama 11 tahun. 

Darisitulah, akupun akhirnya tergerak untuk mempelajari tentang pengelolaan sampah. Memang, membutuhkan waktu dan proses yang tidak sebentar untuk aku akhirnya memulai pengelolaan sampah ini. Terbatasnya sumber informasi, adalah salah satu alasannya. Dulu sulit sekali rasanya untuk mendapatkan informasi tentang pengelolaan sampah, jadi aku bingung harus mulai darimana?

Sekarang, alhamdulillah ada banyak sekali platform yang menyediakan informasi bahkan layanan pengelolaan sampah. Salah satu platform Waste Management Indonesia tersebut adalah Waste4Change. Setelah aku membaca berbagai artikel, mengikuti beberapa seminar,  dan melihat banyaknya praktisi yang sudah melakukan pengelolaan sampah, akhirnya aku semakin mantap untuk memulai mengelola sampah ini.

1. Mengenali Sampah

Tak kenal maka tak sayang, begitulah kata pepatah. Agar mengetahui cara untuk mengelolanya, ketahui dulu siapakah dia. Menurut Undang-Undang No. 18 Tahun 2018, Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Ada tiga pengelolaan sampah yang diatur dalam perundang-undangan ini, yaitu: 

  • Sampah rumah tangga, sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga. 
  • Sampah sejenis sampah rumah tangga, sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari tapi bukan berasal dari rumah tangga. Contoh, pasar, hotel, restoran, objek wisata dll
  • Sampah spesifik, sampah yang membutuhkan penanganan khusus seperti sampah yang mengandung bahan beracum (B3), sampah yang mengandung limbah beracum (B3), sampah yang timbul akibat bencana, puing bongkaran bangunan dll.

Untuk sampah yang berasal dari rumahtangga ini merupakan tanggung jawab kita bersama ya dear.

2. Memilah Sampah

Setelah mengetahui sampah mana yang bisa kita kelola, sekarang waktunya untuk memilah sampah. Hal pertama yang bisa dilakukan adalah memilah sampah organik dan anorganik. Sampah organik adalah sampah yang bisa membusuk dan terurai seperti sisa makanan, sayuran, buah dan lainnya. Sedangkan sampah anorganik adalah sampah yang tidak dapat membusuk dan terurai namun bisa didaur ulang. 

Untuk sampah anorganik ini, aku pilah lagi menjadi beberapa kategori, seperti plastik, kertas karton, dus, kaca, besi dan alumunium. Setelah dipilah, hal pertama yang harus dilakukan adalah mencuci kemasan yang akan diolah sampai bersih. Kedua, lepaskan label stiker yang masih menempel pada kemasan tersebut. Ketiga, keringkan sampai benar-benar kering. Lalu simpan di tempat yang kering/tidak lembab sebelum diserahkan ke Bank Sampah.




3. Mengelola Sampah

Untuk mengelola sampah anorganik bisa dilakukan dengan cara recycle atau mendaur ulang. Mengubah fungsi suatu benda yang sudah tidak berguna menjadi hal benda baru yang bisa digunakan. Nah, karena aku punya keterbatasan dalam hal ini, akhirnya aku memutuskan untuk memberikan sampah anorganik terpilahku ke Bank Sampah. Biasanya aku menitipkan sampah anorganik ini 2 bulan sekali. Nunggu banyak dulu biar ga bolak-balik. Hehehe.

Dok. Pribadi - Sampah Anorganik Terpilah


Sampah yang dititipkan di Bank Sampah ini harus sudah dalam keadaan bersih dan terpilah ya, karena setiap kemasan yang dititipkan itu masih bisa didaur ulang lagi. Ingat, Bank Sampah bukanlah Tempat Pembuangan Akhir ya dear.

Nah, untuk setiap sampah yang kita setor akan ditimbang dan diapresiasi oleh Bank Sampah. Bentuk apresiasinya beragam, mulai dari pengumpulan poin yang bisa ditukar dengan barang/sembako atau berupa pundi-pundi rupiah yang langsung kita dapatkan. Jadi makin semangat ga nih? Hehehe.

Dok. Pribadi - Proses Penimbangan


Untuk mengelola sampah organik, hal yang bisa dilakukan adalah dengan cara menjadikannya pakan hewan ternak atau dengan mengubahnya menjadi kompos. Nah ini dia yang masih menjadi PR terbesarku, yaitu mengompos. Sampai saat ini aku belum mencoba untuk melakukan komposting, karena aku masih cukup kebingungan mencari media apa yang cocok untuk melakukan komposting ini. Maklum, lahan dirumahku tidak begitu besar. 

Beberapa waktu lalu aku mencoba mencari-cari media seperti apa yang cocok untuk memulai komposting di lahan kecil. Akupun menemukan sebuah layanan yang disediakan oleh Waste4Change yaitu Composting Bag. Setelah aku baca panduannya, ternyata komposting itu ga susah dan bisa dilakukan di lahan yang sempit. Selain menyediakan media Composting Bag lengkap dengan panduannya, ternyata ada juga layanan Personal Waste Management-nya juga. Ini adalah layanan jemput sampah yang ditawarkan oleh tim dari Waste4Change. Untuk temen-temen yang kebetulan tidak bisa mengakses Bank Sampah di sekitar tempat tinggalnya, kalian juga bisa mengirimkan sampah anorganik terpilah ke Waste4Change loh. Jadi sekarang udah ga ada alesan lagi untuk tidak mengelola sampah ya, dear.

4. Mengurangi Sampah

Setelah tau ternyata mengelola sampah itu tidak mudah, aku jadi berpikir lebih bijak lagi saat harus 'nyampah'. Sebagai upayaku mengurangi sampah khususnya plastik, aku selalu membawa bekal makan sendiri, membawa botol minum dan alat makan sendiri, membawa tas belanja sendiri dan beralih ke menstrual pad. Seperti kita ketahui, sampah plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk bisa terurai. Jadi sebisa mungkin, aku menekan penggunaan bahan plastik sekali pakai. Meski belum bisa zerowaste, setidaknya berusaha untuk lesswaste lah yaa.. Hehehe.

***

Itu dia cerita aku dan sampah, tentang bagaimana aku memulai untuk #BijakKelolaSampah. Sebuah perjuangan yang tidak mudah dan mulus, tapi inilah sebuah proses berharga yang insyaAllah akan bermanfaat untuk bumi kita kelak. 

Aku percaya, jika pengelolaan sampah dilakukan dengan baik, maka sampah tersebut akan memberikan kebaikan.

Semoga semakin banyak lagi orang-orang yang mulai peduli tentang bumi dan semakin bijak kelola sampah. Karena buang sampah pada tempatnya itu tidak cukup.

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021, Ruly Rosmalina"
 #HariPeduliSampahNasional

10 comments:

  1. memilah-milah sampah dari rumah sangatlah penting untuk menjaga lingkungan tetap baik

    ReplyDelete
  2. Kampanye pengelolaan sampah ini sering membuat galau karena di sisi yang lain iklan produk makanan dengan kemasan plastik dalam volume kecil cukup masif. Semoga dan berharap, gerakan mengatasi sampah, terutama sampah plastik ini didukung dengan penagturan penggunaan kemasan plastik yang lebih ketat.

    ReplyDelete
  3. Karena baru pindah aku ngga tau di sini bank sampah. Kayanya sih ngga ada. Soalnya cuma ada trus yang tiap berapa hari ngangkutin sampah kita. Kalau sampah kita udah di buat kaya macem aku liat di drakor gitu di pilih2 pasti akan lebih baik ya.

    ReplyDelete
  4. Inspiratif tulisannya, Mbak. Saya sendiri jujur aja belum bijak mengolah sampah, tapi liat kondisi sampah di Indonesia sekarang rasanya miris juga ya. Sepertinya abis ini harus mulai memilah dan mengolah sampah nih demi kebaikan bumi.

    ReplyDelete
  5. Sampah memang pe er banger ya. butuh literasi ke level masyarakat awam. Pemerintah juga harus turun tangan buat peraturan. Kalo kita kita yg sudah biasa pasti pilah pilih sampah.

    ReplyDelete
  6. Masha Allah, semangat terus ya kak! Rasanya tertampar sekali belum sepeduli itu dengan sampah :(( Sudah coba perlahan dengan selalu bawa sensok stainless + tumblr, tapi rasanya PRnya masih banyaak

    ReplyDelete
  7. Di rumah kami sampah kami pisahkan antara yang organik dan yang kering,. Sayangnya saat diambil truk pembuangan sambah, petugasny kyk gk peduli. Katanya sampah apa aja pas ditaruh di mobil sampah itu tetep dicampur huhu. Tapi kami msh tetep pisahin sih. Semoga pemerintahnya jg mengadakan pelatihan soal pemisahan sampah ini kpd petugasnya. Jd masyarakat dan petugas sampah pun bisa bersinergi.

    ReplyDelete
  8. keren banget bisa memilah2 sampah gini, pengen memilah2 gini tapi belum bisa.

    ReplyDelete
  9. Kalau aku sampah organik dan plastik selalu di pisah. Yg Organik dijadikan pupuk, yg plastik dikumpulkan terus diberikan ke petugas sampah di kompleks untuk mereka olah atau jual lagi 😀

    ReplyDelete
  10. Kalau misalnya sampah tidak bisa dikelola apalagi dipisahkan, setidaknya dapat meminimalkan sampah ya kak. Kuy kita terapkan agar sampah tidak lagi menumpuk

    ReplyDelete

Thank you so much for stopping by and leave a message ❤️